Hidrosefalus (hydrocephalus) adalah kondisi penumpukan cairan di dalam otak yang mengakibatkan meningkatnya tekanan pada otak. Arti harfiah dari penyakit ini adalah “air di dalam otak.” Dan hidrosefalus anak lebih sering terjadi.

Cairan serebrospinal biasanya mengalir melalui ventrikel dan menggenangi otak dan tulang belakang. Jika tekanan cairan serebrospinal terlalu banyak, maka jaringan otak akan rusak dan menyebabkan gangguan dalam fungsi otak. Gangguan dalam otak ini sangat berpengaruh pada penderitanya. Karena menyebabkan gangguan perkembangan fisik maupun intelektual. Menurut Dr. Heri Aminuddin, SpBS(K), dari Bunda Neuro Center, data kepustakaan yang ada menunjukan bahwa 2 dari 1000 bayi terlahir dengan kondisi hidrosefalus.

Penyebab hidrosefalus Anak

Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya penumpukan cairan otak ini. Seperti terjadinya penyumbatan yang mencegah cairan serebrospinal mengalir normal. Dimana otak ikut memproduksi kelebihan cairan tersebut. Namun, dalam beberapa kasus, penyakit ini juga bisa menimpa bayi yang belum dilahirkan. Dengan kemungkinan penyebabnya adalah:

  1. Cacat bawaan di mana tulang belakang tidak menutup.
  2. Kelainan genetik.
  3. Adanya infeksi tertentu yang terjadi selama kehamilan, misalnya virus rubella.

Penyebab yang biasa terjadi pada usia bayi dan balita adalah sebagai berikut:

  • Infeksi sistem saraf pusat seperti meningitis, terutama pada bayi.
  • Pendarahan di otak selama atau segera setelah melahirkan, terutama pada bayi yang lahir secara prematur.
  • Cedera yang terjadi sebelum, selama, atau setelah melahirkan
  • Trauma kepala
  • Tumor sistem saraf pusat.

Tanda dan gejala

Beberapa tanda dan gejala muncul saat terjadi hidrosefalus anak, diantarnya:

  1. Kepala luar biasa besar dan terjadinya peningkatan ukuran kepala yang sangat pesat.
  2. Menggembungnya ubun-ubun, atau titik lemah di permukaan tengkorak.
  3. Mata yang tetap melihat ke bawah.
  4. Kejang.
  5. Bayi mengalami kerewelan yang ekstrim.
  6. Muntah.
  7. Mengantuk yang berlebihan.
  8. Pola makan yang buruk.
  9. Kekuatan otot sangat lemah.

Penanganan Hidrosefalus Anak

Pasien hidrosefalus anak umumnya mendapatkan 3 penanganan berikut untuk mengatasi penyakitnya:

  1. Shunt. Shunt adalah sebuah metode berupa memasukkan tabung fleksibel panjang dengan katup yang membuat cairan dari otak mengalir ke arah yang benar dan pada tingkat yang tepat. Salah satu ujung pipa biasanya ditempatkan di salah satu ventrikel otak. Selang tersebut kemudian melewati terowongan di bawah kulit ke bagian lain dari tubuh dimana cairan serebrospinal yang berlebihan dapat lebih mudah diserap penis tubuh lainnya. Seperti perut atau ruang di dalam hati. Orang yang memiliki hidrosefalus biasanya membutuhkan sistem shunt sepanjang hidup mereka. Pasien akan membutuhkan pemantauan rutin.
  2. Ventriculostomy. Pada metode ini, dokter bedah akan menggunakan kamera video kecil untuk memiliki pandangan langsung di dalam otak dan membuat lubang di bagian bawah salah satu ventrikel atau antara ventrikel. Lubang tersebut untuk memungkinkan cairan serebrospinal mengalir dari otak. Kedua prosedur bedah tersebut dapat mengakibatkan komplikasi. Metode shunt dapat menghentikan pengeringan cairan serebrospinal atau pengaturan sistem drainase otak yang buruk karena adanya kerusakan mekanis, penyumbatan, atau infeksi.

Komplikasi ventriculostomy termasuk perdarahan dan infeksi. Segala macam kegagalan yang terjadi akan menyebabkan komplikasi. Beberapa ciri terjadinya komplikasi antara lain:

  • Demam.
  • Sifat lekas marah
  • Kantuk
  • Mual atau muntah.
  • Sakit kepala.
  • Adanya masalah penglihatan.
  • Kulit kemerahan, adanya rasa sakit atau nyeri pada kulit di sepanjang jalan dari tabung shunt.
  • Sakit perut ketika katup shunt berada di perut
  • Kambuhnya gejala hidrosefalus awal

Dalam dunia kedokteran, terkait masalah hidrosefalus pada anak ini, dibutuhkan kolaborasi beberapa disiplin ilmu kedokteran, diantaranya;

  1. Dokter anak, yang mengawasi rencana pengobatan dan perawatan medis.
  2. Ahli saraf pediatrik, anak-anak mengkhususkan diri dalam investigation dan pengobatan gangguan neurologis pada anak-anak
  3. Terapis okupasi, anak-anak mengkhususkan diri dalam terapi untuk mengembangkan keterampilan sehari-hari.
  4. Terapis perkembangan, yang mengkhususkan diri dalam terapi untuk membantu anak Anda mengembangkan perilaku yang sesuai dengan usia, keterampilan sosial dan keterampilan social
  5. Penyedia kesehatan psychological, seperti psikolog atau psikiater.
  6. Pekerja sosial ataupun aktivis, yang membantu keluarga dengan mengakses layanan dan berencana untuk transisi dalam perawatan.
  7. Guru pendamping, yang membahas ketidakmampuan belajar, menentukan kebutuhan pendidikan dan mengidentifikasi sumber daya pendidikan yang tepat

Pencegahan Hidrosefalus

“Ada beberapa hal yang dapat mencegah agar anak terhindar dari hidrosefalus sejak dalam kandungan. Misalnya, vaksinasi sebelum kehamilan yang berhubungan dengan berbagai virus penyebab hidrosefalus, misalnya meningitis dan rubella,” jelas Dr. Heri Aminuddin. Perlunya perawatan intensif sebelum melahirkan yang dapat menyebabkan terjadinya kelahiran prematur.

Dalam kegiatan olahraga atau mengendarai kendaraan, usahakan agar anak menggunakan helm pelindung kepala untuk mencegah terjadinya trauma kepala saat jatuh. Selain itu, penggunaan car seat di mobil dengan sabuk pengaman yang kencang juga dapat mencegah terjadinya benturan keras di kepala jika terjadi kecelakaan saat mengendarai mobil. Tentunya, dukungan cinta keluarga dan kedisiplinan dalam pengobatan akan membuat pasien merasa lebih nyaman dan hal itu akan membantu penyembuhannya.

Post Comment