Spondylitis tuberculosis atau TB tulang belakang merupakan salah satu jenis infeksi yang sebabkan oleh kuman tuberculosis yang ada di masyarakat. Keterlambatan diagnosis dan penanganan infeksi tuberculosis inilah yang kemudian berdampak pada terjadinya kerusakan struktur tulang belakang.

Data menunjukan sejak diketemukannya obat anti tuberculous, dan meningkatnya pola kesehatan masyarakat. Angka kejadian TB tulang belakang ini lama kelamaan semakin mengalami penurunan. Meski demikian kondisi ini masih saja ditemui di Negara-negara berkembang seperti halnya Indonesia. Besar kemungkinan penyakit tuberculosis yang terlambat dilakukan diagnosis. Terapi berpotensi menyebabkan kecacatan serius termasuk deficit neurologis, dan perubahan kurva tulang belakang yang berat. “Melakukan terapi secara komperhensif mulai dari tuberculosisnya hingga pembedahan jika sudah terjadi TB tulang belakang. Dapat meningkatkan kualitas hidup pasien secara lebih baik,” jelas Dr. dr. Wawan Mulyawan SpBS(K), SpKP.

Manifestasi TB tulang belakang dapat berupa kombinasi antara osteomyelitis dan arthritis yang biasanya melibatkan lebih dari 1 ruas tulang belakang. Selain ruas tulang yang terkena, batalan tulang belakang juga dapat mengalami kerusakan akibat infeksi tuberculosis ini.

Kerusakan tulang belakang yang progresif dapat menyebabkan kyphosis, penyempitan rongga tulang belakang yang selanjutnya mengarah ke penekanan sumsum tulang belakang, nyeri hingga terjadinya defisit neurologis pada pasien.