Sekitar 30% penyandang epilepsi sulit diobati. Atau dengan kata lain, meski sudah menerima berbagai jenis pengobatan antiepilepsi bertahun-tahun, pasien tak kunjung mengalami perbaikan. Pasien dengan kondisi demikian biasanya direkomendasikan untuk menjalani bedah epilepsi. Dr. Ibnu Benhadi SpBS(K), Tim Dokter Brain and Spine Bunda Neuro Center Rumah Sakit Bunda Jakarta. Mengatakan bedah epilepsi sebenarnya sudah dikenal sejak satu abad lalu. Hanya, penggunaannya mulai meningkat di era 1980 hingga 1990-an dan baru dianggap sebagai salah satu cara paling efektif untuk mengatasi epilepsi.

“Kalau dulu kerap menjadi pilihan terakhir, sekarang bedah epilepsi direkomendasikan dilakukan lebih awal karena berdasarkan hasil penelitian. Semakin awal pembedahan dilakukan, hasilnya semakin baik,” ujarnya. Ada beberapa kriteria penyandang epilepsi yang sebaiknya menjalani pembedahan. Satu di antaranya penyandang epilepsi parsial yang sulit dikendalikan dengan pengobatan. Selain itu, tindakan tersebut diyakini memberikan hasil yang baik pada penyandang epilepsi akibat gangguan struktur otak seperti tumor atau kelainan pembuluh darah otak.

Selama sumbernya diketahui, bedah epilepsi mampu mengurangi serangan kejang pada pasien. Rata-rata, pengurangan itu bisa mencapai 78% daripada sebelumnya.

Bedah Epilepsi

Bedah epilepsy merupakan salah satu prosedur medis yang dilakukan untuk menghilangkan atau mengubah sebagian dari otak yang menyebakan munculnya bangkitan atau kejang. Prosedur ini dikatakan lebih efektif mengatasi kejang terutama yang selalu muncul pada satu lokasi otak. Meski bukan sebagai opsi pertama untuk mengatasi kejang epilepsy. Bedah epilepsi sangat dianjurkan terutama pada pasien yang sudah mengkonsumsi 2 atau lebih jenis obat, namun bangkitan epilepsinya belum terkontrol dengan baik.

Beberapa jenis pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apakah pasien merupakan kandidat yang tepat untuk melakukan tindakan pembedahan, sebelum prosedur medis ini dilakukan.

Kenapa Bedah Epilepsi Dilakukan

Bedah epilepsy, merupakan salah satu opsi saat obat-obatan oral tidak lagi dapat mengkontrol bangkitan atau kejang, yang secara medis disebut sebagai epilepsy refrakter atau epilepsy resisten obat. Tujuan utama dilakukan tindakan bedah epilepsy adalah untuk menghilangkan bangkitan atau kejang hingga menurunkan keparahan penyakit dengan atau tanpa penggunaan obat tambahan.

Dalam beberapa penelitian terbukti, bangkitan atau kejang epilepsy yang tidak terkontrol dapat menyebabkan beberapa komplikasi kesehatan serius, termasuk diantaranya;

  • Cidera fisik yang terjadi saat kejang muncul.
  • Terjadi saat bangkitan muncul ketika penderita epilepsy sedang berenang atau mandi.
  • Depresi dan cemas.
  • Penurunan daya ingat hingga kemampuan berpikir.
  • Pertumbuhan terhambat terjadi pada pasien epilepsy anak.